Jumat, 03 April 2015

Biografi dan Teori "Bapak Sosiologi" Auguste Comte

A. Deskripsi dan Biografi

Auguste Comte (Nama panjang: Isidore Marie Auguste François Xavier Comte; lahir di Montpellier, Perancis, 17 Januari 1798 – meninggal di Paris, Perancis, 5 September 1857 pada umur 59 tahun) adalah seorang filsuf Perancis yang dikenal karena memperkenalkan bidang ilmu sosiologi serta aliran positivisme. Melalui prinsip positivisme, Comte membangun dasar yang digunakan oleh akademisi saat ini yaitu pengaplikasian metode ilmiah dalam ilmu sosial sebagai sarana dalam memperoleh kebenaran. Comte lahir di Montpellier, sebuah kota kecil di bagian barat daya dari negara Perancis. Setelah bersekolah disana, ia melanjutkan pendidikannya di École Polytechnique di Paris. École Polytechnique saat itu terkenal dengan kesetiaannya kepada idealis republikanisme dan filosofi proses. Pada tahun 1816, politeknik tersebut ditutup untuk re-organisasi. Comte pun meninggalkan École dan melanjutkan pendidikannya di sekolah kedokteran di Montpellier. Tak lama kemudian, ia melihat sebuah perbedaan yang mencolok antara agama Katolik yang ia anut dengan pemikiran keluarga monarki yang berkuasa sehingga ia terpaksa meninggalkan Paris. Kemudian pada bulan Agustus 1817 dia menjadi murid sekaligus sekretaris dari Claude Henri de Rouvroy, Comte de Saint-Simon, yang kemudian membawa Comte masuk ke dalam lingkungan intelek. Pada tahun 1824, Comte meninggalkan Saint-Simon karena lagi-lagi ia merasa ada ketidakcocokan dalam hubungannya.


Saat itu, Comte mengetahui apa yang ia harus lakukan selanjutnya: meneliti tentang filosofi positivisme. Rencananya ini kemudian dipublikasikan dengan nama Plan de travaux scientifiques nécessaires pour réorganiser la société (1822) (Indonesia: Rencana studi ilmiah untuk pengaturan kembali masyarakat). Tetapi ia gagal mendapatkan posisi akademis sehingga menghambat penelitiannya. Kehidupan dan penelitiannya kemudian mulai bergantung pada sponsor dan bantuan finansial dari beberapa temannya. Ia kemudian menikahi seorang wanita bernama Caroline Massin. Comte dikenal arogan, kejam dan mudah marah sehingga pada tahun 1826 dia dibawa ke sebuah rumah sakit jiwa, tetapi ia kabur sebelum sembuh. Kemudian setelah kondisinya distabilkan oleh Massin, ia mengerjakan kembali apa yang dulu direncanakannya. Namun sayangnya, ia bercerai dengan Massin pada tahun 1842 karena alasan yang belum diketahui. Saat-saat di antara pengerjaan kembali rencananya sampai pada perceraiannya, ia mempublikasikan bukunya yang berjudul Le Cours de Philosophie Positivistic. Pada tahun 1844, Comte menjalin kasih dengan Clotilde de Vaux, dalam hubungan yang tetap platonis. Setelah Clotilde wafat, kisah cinta ini menjadi quasi-religius. Tak lama setelahnya, Comte, yang merasa dirinya adalah seorang penemu sekaligus seorang nabi dari "agama kemanusiaan" (religion of humanity), menerbitkan bukunya yang berjudul Système de politique positive (1851 - 1854). Dia wafat di Paris pada tanggal 5 September 1857 dan dimakamkan di Cimetière du Père Lachaise.
B. PemikiranAuguste Comte
            Auguste Comte merupakan seorang Prancis, merupakan bapak sosiologi yang pertama tama memberi nama pada ilmu tersebut socius dan logos. Walaupun dia tidak menguraikan secara rinci masalah masalah yang menjadi objek sosiologi, dia mempunyai anggapan bahwa sosiologi terdiri dari dua pokok yaitu sosial statistic dan sosial dynamics.
      a.       Sosial dinamis
      1.      The Law of Three stages
Hukum ini adalah hukum perkembangan intelegensi manusia. Hukum  ini membagi masyarakat membagi dalam tiga tahapan yaitu teologis, metafisis, dan ilmiah (positivisme) dan di dalam tahapan ini masing-masing terdapat bagian sub ordinari yang pertama teologis dibagi menjadi tiga yaitu fetishism, polytheism, dan monoteism. Ketiga tingkatan ini merupakan dasar teori yang dikembangkan oleh Auguste Comte.

2.      The Law of the hierarchie of the sciences
Hukum kedua dari sosial dinamis adalah hierarki dari ilmu pengetahuan dimana dalam pemikiran ini tidak selalu bersifat positive, seringkali masih ada pemikiran teologis.

3.      The Law of the correlation of pratical activities
Comte mengemukakan ada hubungan yang bersifat natural antara cara berfikir teologis dan militerisme. Menurut pemikirannnya teologis mendorong timbulnay usaha untuk menjawab semua persoalan melalui kekuatan.

4.      The Law of the correlation of the feeling
Dalam hukum ini masyarakat hanya dipersatukan oleh feeling (perasaan), korelasinya antara perkembangan pemikiran manusia dengan perkembangan daripada perkembangan sosial sentiment. Dalam tahapan ini hanya terabatas dalam suatu masyarakat local atau suatu city state. Sosial sentiment berkembang secara meluas seiring dengan perkembangan agama Kristen.

b.      Sosial Statis
Dalam hal ini, Comte bermaksud mengenai teori tertib dasar masyarakat. Sebagaimana disebut diatas membagi Sosiologi kedalam dua bagian yang memiliki kedudukan yang tidak sama, sekalipun sosial statis merupakan bagian yang lebih elementer dalam sosiologi. Tetapi kedudukannya tidak begitu penting disbanding dengan sosial dinamis. Fungsi sosial statis untuk mencari hukum-hukum dari bagian didalam suatu sistem sosial.
1.      The doctrine of the individual
Comte menganggap teori tentnag sikap-sikap dasar manusia sangat penting di dalam sosiologi. Dia menganggap bahwa individu adalah cerminan dari suatu masyarakat. Jadi jika kita menghilangkna dari sesuatu individu sama saja kita menghilangkannya dari masyarakat. Comte mengakui adanya sesuatu yang disebut insting yang dibagi menjadi dua yaitu egoistic insting dan altruistic insting.

2.      The doctrine of the family
Keluarga adalah unit masyarakat yang sebenarnya, keluarga terbentuk melalui insting dan daya tarik alamiah natural affection.
3.      The doctrine of the society
Keluarga menurut Comte bukanlah masyarakat namun masyarakat merupakan kesatuan yang lebih luas yang terdiri dari sejumlah esakeluarga.
4.      The doctrine of the state
Comte menganggap bahwa negara dan masyarakat itu merupakan dua hal yang berbeda. Menurutnya negara adalah bentuk khusus dari asosiasi atau organisasai sosial.
Perkembangan tersebut pada hakikatnya melewati tiga tahap, sesuai tahap-tahap pemikiran manusia yaitu:
a.       Tahap teologis, ialah tingkat pemikiran manusia bahwa semua benda didunia ini mempunyai jiwa dan itu disebabkan oleh sesuatu kekuatan yang berada di atas manusia. Cara pemikiran tersebut tidak dapat dipakai dalam ilmu pengetahuan, karena ilmu pengetahuan bertujuan untuk mencari sebab serta akibat dari gejala-gejala.
b.      Tahap metafisis, pada tahap ini manusia masih percaya bahwa gejala-gejala didunia ini disebabkan oleh kekuatan-kekuatan yang berada di atas manusia. Manusia belum berusaha untuk mencari sebab dan akibat gejala-gejala tersebut.
c.       Tahap positif, merupakan tahap dimana manusia telah sanggup untuk berfikir secara ilmiyah. Pada tahap ini berkembanglah ilmu pengetahuan.

Menurut Comte , masyarakat harus diteliti atas dasar fakta-fakta objektif dan dia juga menekankan pentingnya penelitian penelitian perbandingan antara berbagai masyarakat yang berlainan.








C. Contoh yang dihubungkan dengan fenomena sosial
Bila dikaitkan dengan fenomena sosial teori yang dapat disambungkan adalah teori social statistics dan social dynamic. Social statistics  merupakan sebuah ilmu yang  mempelajari hubungan timbal balik antara lembaga lembaga kemasyarakatan. Social dynamic meneropong bagaimana lembaga lembaga tersebut berkembang dan Menurut Comte , masyarakat harus diteliti atas dasar fakta-fakta objektif dan dia juga menekankan pentingnya penelitian penelitian perbandingan antara berbagai masyarakat yang berlainan. Masyarakat satu dengan yang lainnya mempunyai ciri khas dan karakteristik berbeda, dan masyarakat memiliki karakteristik dinamis perkembangan yang berbeda beda,dalam hal ini dapat disimpulkan bahwa masyarakat satu dengan yang lainnya berbeda dan tidak sama. Untuk itu jika kita ingin meneliti karakteristik masyarakat jangan dulu menyimpulkan masyarakat satu dengan yang lainnya sama. Harus ada penelitian yang panjang untuk menentukan karakteristik masyarakat.

Masyarakat secara luas dijaman sekarang ini telah mengenal banyak teknologi dan berfikir secara realistis,tetapi masih ada masyarakat disuatu tempat yang masih berfikir irasional,hal tesebut menyangkut dengan teori Auguste Comte  yaitu tentang metafisis masih banyak masyarakat atau individu yang mempercayai suatu faktor yang membuat suatu hal hal berkembang karena adanya faktor lain selain sang pencipta yaitu karna faktor jimat dan lain lain. Contohnya suatu masyarakat memberikan sesaji kepada batu dan mengkeramatkan batu besar yang ada di dekat ladang karena ladang itu selalu besar hasil panen dibanding dengan ladang yang jauh dari batu itu,padahal pada kenyataaanya hal tersebut disebabkan oleh kesuburan tanah yang berbeda.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar